Senin, 07 Februari 2011


Beasiswa Bidik Misi Tahun 2011

Posted by.Hesky R.D. Kumajas

Bidik Misi 2011

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2010 meluncurkan program Bidik Misi untuk memberikan bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan dan bantuan biaya hidup kepada 20.000 mahasiswa yang memiliki potensi akademik memadai dan kurang mampu secara ekonomi di 104 perguruan tinggi penyelenggara.

Bidik Misi merupakan program seratus hari kerja Menteri Pendidikan Nasional yang dicanangkan pada tahun 2010 yang pada tahun 2011 ini dilanjutkan dengan kembali menerima 20.000 calon mahasiswa yang diselenggarakan di 117 perguruan tinggi penyelenggara.

PERSYARATAN
Persyaratan untuk mendaftar program Bidik Misi tahun 2011 adalah:

  1. Siswa SMA/SMK/MA/MAK atau bentuk lain yang sederajat yang akan lulus pada tahun 2011 atau telah lulus pada tahun 2010 dan bukan penerima Bidik Misi;
  2. Usia paling tinggi pada saat mendaftar adalah 21 tahun;
  3. Memiliki potensi akademik memadai dan kurang mampu secara ekonomi serta masuk dalam 30 persen terbaik di sekolah (semester empat dan lima bagi yang akan lulus 2011 atau semester lima dan enam bagi lulusan 2010) dicantumkan pada formulir rekomendasi Kepala Sekolah/Madrasah
  4. Pertimbangan khusus diberikan kepada pendaftar yang mempunyai prestasi ko-kurikuler maupun ekstra kurikuler paling rendah peringkat ke-3 di tingkat Kabupaten/Kota atau prestasi non kompetitif lain yang tidak ada pemeringkatan (contoh ketua organisasi siswa);
  5. Prestasi yang dimaksud pada butir 3 (tiga) dan 4 (empat) dinyatakan melalui surat pernyataan Kepala Sekolah/Madrasah atau kepala dinas pendidikan Kabupaten/Kota.

KUOTA

  1. Alokasi mahasiswa baru penerima bantuan biaya pendidikan pada tahun anggaran 2011 adalah 20.000 orang yang didistribusikan kepada PTP di bawah Kemdiknas dan Kemenag (Lampiran 1);
  2. Alokasi yang ditetapkan untuk setiap PTP disesuaikan dengan jumlah mahasiswa baru yang diterima setiap tahunnya dan/atau jumlah total mahasiswa di PTP serta pertimbangan lainnya.

PENGGUNAAN DANA

  1. Bantuan biaya hidup yang diserahkan kepada mahasiswa sekurang-kurangnya sebesar Rp600.000,00 (enam ratus ribu rupiah) per bulanyang ditentukan berdasarkan Indeks Harga Kemahalan daerah lokasiPTP;
  2. Bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan yang dikelola PTP sebanyak-banyaknya Rp2.400.000,00 (dua juta empat ratus ribu rupiah) per semester per mahasiswa. Dalam pelaksanaannya PTP dapat melakukansubsidi silang antar program studi;
  3. Kelebihan bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan digunakan untuk pembinaan mahasiswa penerima melalui berbagai bentuk kegiatan penunjang yang sepenuhnya diatur oleh PTP;
  4. PTP mengatur besaran bantuan biaya hidup dan bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan;
  5. Kekurangan bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan di PTP, ditanggung oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. PTP dapat mengupayakan sumber dana dari pihak lain;
  6. PTP memfasilitasi penyediaan dana, sarana dan prasarana belajar mengajar kepada penerima Bidik Misi dengan sumber bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan Bidik Misi atau sumber lain yang relevan;
  7. Semua penggunaan dana harus dilaporkan ke Ditjen Dikti sesuai penjelasan singkat pada bab VI.

PERSIAPAN PENDAFTARAN

  1. Kementerian Pendidikan Nasional melakukan koordinasi dan sosialisasi dengan unit utama, unit kerja dan instansi terkait termasuk Panitia Seleksi Nasional serta melakukan publikasi melalui media massa;
  2. Dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota melakukan sosialisasi dan atau memberikan informasi kepada satuan pendidikan di lingkungannya tentang program Bidik Misi;
  3. Institusi pendidikan tinggi melakukan sosialisasi dan atau memberikan informasi kepada sekolah dan publik tentang program Bidik Misi;
  4. Kepala Sekolah/Madrasah mengkoordinasikan seluruh proses pendaftaran di setiap sekolah dan mengirimkan berkas yang telah memenuhi persyaratan ke perguruan tinggi penyelenggara yang dituju.

TATA CARA PENDAFTARAN

  1. Calon pendaftar memilih program pendidikan Diploma III, Diploma IV atau Sarjana (S1) pada perguruan tinggi negeri penyelenggara;
  2. Setiap calon hanya boleh mendaftar di 1 (satu) perguruan tinggi, dengan memilih paling banyak 2 (dua) program studi, pendaftaran pada lebih dari satu perguruan tinggi akan dikenai sanksi sebagai diatur pada Bab V. Sub Bab D;
  3. Kepala Sekolah/Madrasah menyeleksi siswa yang memenuhi syarat program Bidik Misi dan menyusunnya ke dalam sebuah Rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya menggunakan formulir pada Lampiran 3;
  4. Sekolah mendaftarkan diri sebagai instansi pemberi rekomendasi Bidik Misi ke http://bidikmisi.dikti.go.id/sekolah dengan melampirkan hasil pindaian (scan) (Lampiran 4 bagian F) untuk mendapatkan nomor NISR (Nomor Identifikasi Sekolah Pemberi Rekomendasi);
  5. Sekolah merekomendasikan siswa melalui http://bidikmisi.dikti.go.id/sekolah menggunakan NISR untuk mendapatkan NP (Nomor Pendaftaran);
  6. Calon pendaftar melengkapi persyaratan yang telah ditetapkan untuk mendapatkan persetujuan dari Kepala Sekolah/Madrasah;
  7. Calon yang memenuhi persyaratan melakukan pendaftaran langsung secara online melalui laman www.bidikmisi.dikti.go.id/pendaftaran menggunakan NP kemudian mencetak formulir pendaftaran (Lampiran 2) untuk disampaikan ke Kepala Sekolah/Madrasah beserta berkas persyaratan lainnya;
  8. Calon yang tidak dapat melakukan pendaftaran secara online sesuai butir 7, mengisi formulir yang disediakan oleh sekolah/madrasah. Selanjutnya formulir yang telah diisi beserta berkas persyaratan lainnya disampaikan ke Kepala Sekolah/Madrasah. Formulir dapat di unduh di www.dikti.go.id atau www.bidikmisi.dikti.go.id;
  9. Kepala Sekolah/Madrasah mengirimkan berkas yang memenuhi syarat secara kolektif kepada masing masing Rektor/Ketua/Direktur atau pimpinan PTP yang dituju dengan perihal surat pendaftaran bidik misi 2011 (alamat seleksi PTP lihat Lampiran 4) Berkas yang dimaksud meliputi:
    • 1) Berkas yang dilengkapi oleh calon yang akan lulus tahun 2011:
    • a) Formulir pendaftaran yang telah diisi oleh calon yang bersangkutan (butir 6 atau 7) dan dilengkapi dengan pasfoto berwarna ukuran 3×4 sebanyak 3 (tiga) lembar;
    • b) Fotokopi Kartu Tanda Siswa (KTS) atau yang sejenis sebagai bukti siswa aktif;
    • c) Fotokopi rapor semester 1 s.d. 5 yang dilegalisir oleh Kepala Sekolah/Madrasah;
    • d) Surat keterangan tentang peringkat siswa di kelas dan bukti pendukung prestasi lain di bidang keilmuan/akademik yang disahkan (legalisasi) oleh Kepala Sekolah/Madrasah;
    • e) Surat Keterangan Penghasilan Orang tua/wali atau Surat Keterangan Tidak Mampu yang dapat dibuktikan kebenarannya, yang dikeluarkan oleh Kepala Desa/ Kepala Dusun/instansi tempat orang tua bekerja/tokoh masyarakat;
    • f) Fotokopi Kartu Keluarga;
    • g) Fotokopi rekening listrik bulan terakhir (apabila tersedia aliran listrik) dan atau bukti pembayaran PBB dari orang tua/wali-nya.
    • 2) Berkas yang dilengkapi oleh calon yang lulus tahun 2010:
    • a) Formulir pendaftaran yang telah diisi oleh calon yang bersangkutan (butir 6 atau 7) dan dilengkapi dengan pasfoto berwarna ukuran 3×4 sebanyak 3 (tiga) lembar;
    • b) Surat keterangan lulus dari Kepala Sekolah/Madrasah;
    • c) Fotokopi rapor semester 1 s.d. 6 yang dilegalisir oleh Kepala Sekolah/Madrasah;
    • d) Fotokopi ijazah yang dilegalisir oleh Kepala Sekolah/Madrasah;
    • e) Fotokopi nilai ujian akhir nasional yang dilegalisir oleh Kepala Sekolah/Madrasah;
    • f) Surat keterangan tentang prestasi/peringkat siswa di kelas dan bukti pendukung prestasi lain di bidang keilmuan/akademik yang disahkan (legalisasi) oleh Kepala Sekolah/Madrasah;
    • g) Surat Keterangan Penghasilan Orang tua/wali atau Surat Keterangan Tidak Mampu yang dapat dibuktikan kebenarannya, yang dikeluarkan oleh Kepala desa/Kepala dusun/Instansi tempat orang tua bekerja/Tokoh masyarakat;
    • h) Fotokopi Kartu Keluarga atau Surat Keterangan tentang susunan keluarga;
    • i) Fotokopi rekening listrik bulan terakhir (apabila tersedia aliran listrik) dan atau bukti pembayaran PBB (apabila mempunyai bukti pembayaran) dari orang tua/wali-nya.
    • 3) PTP dapat memfasilitasi pendaftaran tanpa rekomendasi sekolah jika terjadi hal sebagai berikut:
    • a) Sekolah asal sudah tidak menyelenggarakan pendidikan pada saat pendaftaran Bidik Misi 2011;
    • b) Sekolah tidak memfasilitasi dan mendukung program Bidik Misi secara sengaja;
    • c) Terjadi force majeur/bencana alam lainnya;
    • d) Hal lain yang dirasa mendesak dan bertujuan untuk kemanusiaan dan keadilan serta pemerataan akses pendidikan.
    • Semua pendaftaran yang difasilitasi oleh perguruan tinggi akan tercatat melalui SIM Bidik Misi dan akan diperhatikan secara khusus.

Minggu, 06 Februari 2011

Sejarah Watu LUTAU sebagai tempat perkawinan Toar dan Lumimu'ut


Menurut beberapa sumber terpercaya yang saya dapat bahwa sejak menghilangnya karema sewaktu pengembaraan Toar untuk mencari pasangan hidup ada dugaan bahwa karema sempat mengembara juga dan menetap beberapa tahun di sebelah selatan yang sekarang di sebut minahasa selatan tepatnya diantara gunung LOLOMBULAN Dan SINONSAYANG dikarenakan karema sudah menduga bahwa Lumimuut dan Toar akan bertemu sehingga dia hendak mempersiapkan acara peringatan pertemuan antara Toar dan Lumimuut sebagai tanda sudah menjadi sepasang kekasih atau suami istri di buktikan dengan Pembuatan WATU LUTAU yang pada waktu tertentu mengeluarkan suara tembakan sepereti Meriam/ Petir/ Guntur memberikan isyarat kepada Toar dan Lumimuut untuk segera menuju kesana untuk mempersatukan dan menccocokan Tawa'ang yang dibawah masing-masing sebagai tanda berjodoh seperti yang di katakan Karema sebelumnya dan hanya karema yang dapat membuktiakan karena dia yang mengenalih Tawa'ang tersebut dan mempersatukan mereka berdua dan dibuatlah suatu acara pengikat dan di gambarkan atau di lukiskan oleh karema di WATU LUTAU tersebut, sehingga batu tersebut memilikih ukiran/gambar sepasang kekasih. bergandengan tangan yang melambangkan mereka sudah bersatunya dan siap melanjutkan keturunan.
Sehingga daerah itu pada awalnya dinamakan Desa LUTAU dan selanjutnya berubah nama menjadi TINONDEYAN dan sekarang menjadi desa TONDEIyang berarti Tempat yang dicari kembali karena sempat ditinggalkan. tanpa di sadari bahwa daerah tersebut sudah di lupakan yang sebenarnya menyimpanrahasia dibalik semua cerita tentang TOAR DAN LUMIMUUT.

Sabtu, 05 Februari 2011

Rahasia DiBalik Semua Cerita Tentang Toar dan Lumimuut


Oleh: Hesky R.D. Kumajas
Bert Supit, penulis buku, Minahasa: Dari Amanat Watu Pinawetengan Sampai Gelora Minawanua (1986), dalam pengantar diskusi ‘Strategi Budaya demi Pakalawiren dan Pakatuan’ (2007), antara lain menyatakan, bahwa “kita sebagai Tou-Minahasa selain mendalami dan memahami kondisi budaya masa kini, kita kiranya diharuskan juga membina tradisi dan peninggalan sejarah yang mempunyai nilai-nilai perjuangan yang bermanfaat dalam kehidupan berbangsa sehari-hari. Dalam Manifesto Kawanua (MK) di Jakarta Tahun 2004 lalu, menggarisbawahi ‘manusia Kawanua menghargai dan memaksimalkan pemanfaatan semua artefak dan sistem nilai budaya peninggalan generasi pendahulu sebagai cermin pengenalan akan jati diri kita yang menjadi modal dasar kepribadian khas bagi pengembangan strategi kebudayaan menuju manusia Kawanua yang unggul dan bahagia.
MK tersebut dipersembahkan kepada setiap Tou-Minahasa di manapun ia berada agar dapat menjadi penunjuk jalan bagi kokohnya eksistensi dan pre-eminensi kita dalam alam modernisasi masa kini di bumi nusantara maupun di dunia. Sebagai implikasinya, di bawah ini akan dikemukakan makna dimensi-dimensi histori maupun mitologi Tou-Minahasa”.
Isu Teoritis
Pembentukan ilmu-ilmu sosial dan institusi-institusinya terjadi dan berkembang di Asia dan Afrika pada mulanya dilakukan oleh sarjana-sarjana dan pemegang kekuasaan di masa penjajahan sejak abad ke 18, dan juga oleh orang Eropa lainnya secara langsung maupun tidak. Tinjauan atas persoalan ketidaktepatan pada tataran filosofis, teoritik, empiris, dan terapan merupakan konsekuensi dari pertemuan antara teori dan cara Barat di satu pihak dengan kenyataan setempat (nasional maupun regional/lokal) di pihak lain (Alatas 2003:3).
Sebagaimana asal-usul leluhur suatu etnik, khususnya Etnik Minahasa, deskripsi ‘etnografinya’ (mitologi-histori) sejak abad ke 18 cenderung didominasi oleh penulis asing (Graflaand, Schwarz, Riedel, Palm, Adam, Wilken, etc.) yang sudah sejak lama dijadikan referensi atau sumber data penulis-penulis lokal ketika mereka mengekspresikannya dalam wacana (tulisan-lisan) sejarah dan kebudayaan tentang Minahasa ditambah dengan pengalaman dan/atau catatan dokumen lainnya yang dapat dipercaya validilitasnya.
Untuk maksud tersebut, maka secara konseptual diperlukan kontstruksi teori dalam mengola secara kritis sumber-sember data tersebut yang dijadikan referensi oleh penulis-penulis lokal (budayawan – sejarahwan) terkesan tidak dilatarbelakangi oleh tradisi akademik, khususnya antropologi yang lazim menggunakan konstruksi teori ketika mendeskripsikan teks tulisan suatu etnografi. Karena sebagaimana dinamika antropologi (mungkin juga arkeologi atau ilmu sejarah) sebagai salah satu disiplin ilmu-ilmu sosial, setelah fase ke empat (1930-an) telah mengalami perkembangan yang pesat, yang sampai pada era sekarang ini tahun 2000-an dikembangkan lagi oleh kalangan post-modernist anthropological Philosophy, mengenai ‘refleksitas’ (Salzman 2002). Implikasi teoritisnya, bahwa dalam mengkaji (rekonstruksi) asal usul orang Minahasa ditelaah secara antropologis, di mana salah satu pendekatannya adalah ‘deskriptif integrasi’, atau secara ‘diakronik’ (lihat Koentjaraningrat 1981; Keesing 1986; Harris 1991). Jadi, pendekatan akademiknya, sama sekali berbeda dengan humaniora (ilmu-ilmu sejarah, sastra dan filsafat).
Seperti diketahui bahwa pendekatan diakronik bertujuan untuk mencari pengertian sejarah tentang asal-usul dan perkembangan dari suatu daerah atau etnik, kemudian mengintegrasikan dalam konteks-konteks ruang dan waktu. Di sini, penulis mencoba menyajikan data yang bersumber dari teks-teks yang ada (buku, makalah, catatan, dan ungkapan-ungkapan lisan) mengenai kehidupan masyarakat dan kebudayaan orang Minahasa dalam konteks sejarah, gejala sosial dan kebudayaannya masa kini. Kecuali itu, dalam mengklarifikasi ruang dan waktunya, juga memperhatikan temuan arkeologi – fosil-fosil atau artefak-artefak yang pernah terdapat di Minahasa maupun yang terdapat pada masyarakat atau etnik sekitarnya. Semua data atau informasi dikumpulkan secara integratif diolah menjadi satu.
Hasil kajian, relatif dapat diinterpretasi makna identitas leluhur orang Minahasa yang selama ini dipandang secara beragam baik oleh kaum awam maupun oleh mereka yang dianggap sebagai penulis lokal (native), dikenal sebagai budayawan, sejarawan yang telah menulis tentang Minahasa (Watuseke, Wuntu, Supit, Sinolungan, Lapian, Kotambunan, Sendouw, Mambu, Wenas, Umboh, Gosal).
Menelusuri Dimensi-Dimensi Mitologi dan Histori Leluhur Minahasa
Difusi. Berdasarkan telaah diakronik (perbandingan data pra-sejarah), diperkirakan di tanah Minahasa sudah ada manusia, sekitar lebih dari 7000 tahun sebelum masehi (SM). Rentang waktu ini dapat dipertimbangkan kesahihannya, karena didukung oleh adanya temuan fosil dari arkeolog asal Australia bernama Peter Bellwood, mengenai sisa-sisa makanan manusia purba orang Minahasa, seperti anoa, babi hutan, monyet, tikus, burung penyu dan ular, dan juga kapak batu terletak didekat danau Tondano, tepatnya di desa Paso. Secara arkeologis, fosil-fosil ini sudah berusia sekitar tahun tersebut.
Mengenai kapak batu di Sulawesi Utara (Minahasa), terdiri dari tiga jenis kapak batu (segi empat, tangga, dan lonjong). Kapak batu bulat lonjong yang di Minahasa (desa Paso), berumur sekitar masa 5000 tahun yang lalu. Sama seperti yang ditemukan di luar Indonesia, antara lain dari Filipina, Jepang dan Yunan (Cina Selatan). Dalam kaitan dengan temuan kapak batu bulat lonjong yang ditemukan di Minahasa tersebut, tentunya perlu dilihat dengan menggunakan pendekatan teori difusi yang sering digunakan oleh ahli antropologi dalam mengkaji asal-usul persebaran kebudayaan (fisik maupun non-fisik) dari satu tempat ke tempat lainnya.
Seorang arkeolog yang bernama Fritz Wagner memberikan analisis, bahwa kebudayaan di kepulauan Indonesia berasal dari wilayah Yunan di Cina Selatan yang menyebar ke kepulauan Indonesia sekitar tahun 4500-3000 BC. Hal ini, secara teoritis menunjukka bahwa asal usul kapak tersebut kemungkinan bisa datang atau dibawa dari wilayah Yunan, Vietnam Utara, melalui P. Formosa Taiwan, kemudian ke Filipina sampai akhirnya ke Minahasa, yang kemudian membentuk masyarakat etnik Melayu-Tua (lihat Wenas 2007:28).
Dengan demikian, berdasarkan ruang dan rentang waktu yang disimpulkan oleh para arkeolog berdasarkan hasil temuan-temuan fosil di atas, maka wilayah Minahasa atau tepatnya di kawasan danau Tondano (desa Paso) mulai didiami manusia yang makan kerang air tawar mulai 5000 sampai 3000 atau 1000 tahun tahun SM. Dengan demikian, secara diakronik (didukung data arkeologi), di kawasan danau Tondano inilah merupakan tempat pemukiman pertama dan terlama dihuni oleh leluhur Minahasa. Alasan teoritisnya, adalah bahwa sejak ditemukan fosil makanan orang purba dan kapak batu di kawasan tersebut, belum diperoleh data arkeologi adanya temuan fosil tersebut di tempat lain di wilayah daratan Minahasa.
Untuk maksud tersebut dapatlah dipertanyakan dan/atau dikaji lagi kebenaran atas asumsi sosok Lumimu’ut adalah makhluk manusia pertama yang pertama kali yang ada di Tanah Minahasa. Apakah Lumimu’ut lebih dahulu ada setelah manusia-manusia yang mendiami kawasan danau Tondano (fosil manusia purba), seperti apa yang telah dinyatakan di atas, diperkirakan mereka hidup sekitar tahun 7000-5000 BC? Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa asumsi-asumsi mengenai asal-usul Lumimu’ut berdasarkan perspektif difusi ada hubungannya dengan temuan para arkeolog di atas, yakni mereka datang dari daratan Asia kemudian bermigrasi ke Jepang, P. Formosa, Filipina dan akhirnya sampai ke Minahasa. Untuk maksud tersebut, tidaklah berlebihan saya akan coba untuk merekonstruksi sedemikian rupa asal-usul Lumimu’ut, bahwa berdasarkan ciri-ciri fisik atau ras, tergolong ras mongoloid-tua (mata sipit, kulit kuning lansat), dapat diasumsikan berasal dari beberapa tempat, seperti yang dikemukakan di bawah ini.
1) Dari daratan Asia Mongolia, bermigrasi ke Jepang, masuk P. Formosa (Taiwan), Filipina, dan terdampar di pesisir barat Minahasa, kemudian turunannya mengembara ke pedalaman pegunungan Wulur Mahatus dan menyebar di daratan Minahasa, termasuk manusia-manusia yang mendiami kawasan danau Tondano tersebut?
2) Dari daratan Cina Selatan (Yunnan), langsung ke Filipina, masuk Kalimantan (suku Dayak), dan bermigrasi ke Sulawesi (Minahasa)?
Sebagai catatan, oleh karena secara akademik isu migrasi leluhur Minahasa (Lumimu’ut) yang ungkapkan di atas belum dapat dipastikan kebenarannya, maka perlu direkonstruksi sedemikian rupa asumsi-asumsi historis maupun mitologisnya dengan menelusuri latar belakang Lumimu’ut yang dipercaya sebagai perempuan perkasa (Dewi Bumi), adalah manusia pertama yang menginjak kakinya di bumu Malesung. Untuk jelasnya simak pengungkapannya dalam versi mitologis maupun historis di bawah ini
Reinterpretasi Dimensi Mitologi Leluhur Minahasa
Seperti diketahui bahwa interpretasi asal usul sosok Lumimu’ut sebagai orang pertama di Tanah Minahasa dalam koteks mitologis, berdasarkan wacana lisan (cerita rakyat dari mulut ke mulut), Lumimu’ut adalah seorang putri raja dari negeri seberang. Mungkin karena sang raja (ayah dari Lumimu’ut) tidak menginginkan anak perempuan sebagai pewaris tahta kerajaan, maka dikeluarkan titah atau perintah kepada pengawalnya untuk membuang bayi Lumimu’ut tersebut ke tengah laut. Ternyata di tengah laut bayi Lumimu’ut tidak dibiarkan sendirian, namun mungkin karena sang pengawal ini merasa iba terhadap bayi, diantar bayi tersebut sampai ke pesisir daratan Minahasa.
Kehadiran tokoh Karema sebagai penentu berlanjutnya kisah Lumimu’ut ini, adalah sebagai dewi bintang (lihat Wenas 2007), yang dikenal dengan bintang berekor (komet helly). Turun ke bumi kemudian berwujud menjadi makhluk bumi (manusia), karena merasa tertarik melihat Lumimu’ut yang sendirian di pesisir daratan Minahasa tersebut. Maka proses selanjutnya dipeliharalah Lumimu’ut sebagai seorang gadis yang cantik. Singkat cerita, akhirnya melalui ‘perantaraan’ Karema mendayagunakan alat reproduksi Lumimu’ut supaya hamil, kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki yang dinamakan To’ar (mitos dewa langit).
Setelah Toar beranjak menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa (tuama), timbul inisiatif dari Karema untuk mencarikan jodoh agar Toar maupun Lumimu’ut dapat memiliki keturunan. Karema pun membuat kesepakatan dengan Toar dan Lumimu’ut agar masing-masing mengembara (Toar ke utara’ dan Lumimu’ut ke selatan) untuk mencari jodoh sebagai pasangan hidup masing-masing. Dibuatlah aturan main, dengan cara mengambil dua buah potong tongkat bentuknya sebangun dan sejajar, kemudian diserahkan kepada mereka. Alasan dibuatnya aturan ini, untuk meyakinkan agar orang lain yang ditemukan adalah bukan dari antara mereka sendiri. Dengan kata lain, bahwa apabila ditemukan seseorang (lawan jenis) membawa tongkat bentuknya berbeda, maka yang bersangkutan diperkenankan untuk dijadikan sebagai istri atau suami.
Singkat cerita, akhirnya To’ar bertemu dengan seorang perempuan yang membawa tongkat bentuknya berbeda dengan miliknya. Maka, sesuai dengan aturan yang digariskan oleh Karema dijadikanlah perempuan tersebut sebagai istrinya, yang tak lain adalah Lumimu’ut. Termasuk juga dalam versi mitologis ini, adalah cerita asal usul Karema dan Toar-Lumimu’ut yang diungkapkan dalam bentuk syair lagu, yang berjudul asli “De Zang Van Karema” (‘Nyanyian Dewi Karema’). Dapat dikatakan bahwa hampir semua sub-etnik Minahasa, terutama ke-empat sub-etniknya, yaitu Toulour, Tombulu, Tountemboan, Tonsea mengetahui syair lagu ini. Pernah dinyanyikan pada upacara ‘Mangorai’ yang dinilai oleh penulis H. Van Kol (1903:160) bahwa syair dalam nyanyian ini paling lengkap dan estetika tata-bahasanya paling indah, ditemukan di wilayah sub-etnik Tombulu (syair-syairnya lihat lampiran bab ini).
Kisah mitologis mengenai Karema¸Lumimu’ut dan Toar di atas, hampir ada kesamaan dengan kisah mitologi Yunani tentang Odipus-Complex (percintaan antara ibu dan anak laki-laki); dan cerita legenda masyarakat Sunda, yang dikenal dengan sangkuriang.
Mengenai mitologi, yang dianggap sebagai cerita legenda (dongeng), pada umumnya ilmuan sosial (termasuh ilmuan sejarah) menyatakan bahwa ‘mitos’ tidak memiliki kekuatan ilmiah? Ternyata di kalangan sejarawan masa kini, tidak lagi menganggap demikian. Karena mitos dan legenda telah juga menempati tempat terhormat dalam kajian Ilmu Sejarah modern, yang memiliki kesahihan yang setimbang dengan data-data lainnya (lihat: Segal, Robert A., ‘Theorizing about Myth’, 1999, University of Massachusetts, Boston), Greenhill Glanvon Weol (2010). Pendekatan ini memang belum setua metode-metode konvensional, namun telah banyak diterapkan, sebab ternyata membuka tingkap-tingkap baru yang tak mampu diungkap metode konvensional karena kemampuannya ‘menghancurkan’ batas-batas trans-disipliner. Mengutip Karen Amstrong dalam A Short History of Myth: “A myth is essentially a guide; it tells us what we must do in order to live more richly. If we do not apply it to our own situation and make the myth a reality in our own lives, it will remain as incomprehensible and remote as the rules of a board game, which often seem confusing and boring until we start to play..”….
Reinterpretasi Dimensi Histori Leluhur Minahasa
Dalam konteks akademik, bagaimanapun juga versi mitologi yang dimaksud di atas, tidak dapat dijadikan sebagai pengetahuan ilmiah atau secara akal sehat (misalnya, Karema adalah wujud dari bintang berekor yang turun ke bumi), maka tidaklah berlebihan pada seksi ini saya akan coba menyajikan dalam versi historis, diperkirakan sekitar abad ke empat masehi. Bahwa sesungguhnya Karema itu bukanlah dewi bintang berekor yang turun dari langit, tetapi dia adalah seorang perempuan separuh baya berperan sebagai pemimpin dayang-dayang istana
Berkenaan dengan adanya perintah raja kepada pengawalnya untuk membuang/membunuh bayi Lumimu’ut, Karema ditugaskan oleh ratu (ibu Lumimu’ut) agar secara diam-diam mendampingi sang pengawal merawat bayi Lumimu’ut. Sang ratu tidak berdaya mencegah keputusan raja karena sesuai dengan adat atau peraturan keluarga kerajaan, bahwa apabila anak pertama lahir bayi perempuan, maka anak tersebut dibunuh atau dibuang ke tengah laut. Seperi cerita di atas, sang pengawal pun bersama dengan Karema mengantar bayi Lumimu’ut sampai ke suatu tempat di Minahasa. Perkiraan penulis, tempat pertama yang dituju mungkin di pesisir kawasan pantai timur Minahasa. Akhirnya sang pengawal menyerahkan bayi Lumimu’ut kepada Karema untuk memeliharanya.
Sesuai dengan namanya, Karema mungkin keturunan suku bangsa Mongol, sedangkan orang tua Lumimu’ut adalah pangeran atau raja yang berasal dari kerajaan-kerajaan kuno di daratan Cina Selatan (Yunnan). Untuk itu, apabila dihubungkan dengan adat pembuangan/ pembunuhan bayi perempuan (infanticide) yang pernah menjadi tradisi bangsa Jepang kuno dan suku-suku bangsa lain yang ada di daratan Tiongkok (lihat Singarimbun 1985), maka boleh jadi Lumimu’ut ini berasal dari negeri yang melaksanakan tradisi tersebut (Jepang). Tafsiran ini juga didukung oleh penjelasan dari ahli bahasa Adriani, bahwa ‘Toar’ (tou + ari = manusia karunia dewa), dalam bahasa Minahasa tou= manusia, dalam bahasa Jepang ‘hito’ (sito)= orang atau manusia. Selanjutnya, menurut Kruyt bahwa waruga (kuburan kono orang/dotu Minahasa) ada kesamaan dengan keranda-keranda (steenhouwere) yang ada di Jepang, Formosa, Filipina (Luzon) dan napu-napu di Sulawesi Tengah (lihat Umboh 1985:24).
Kecuali itu, ada juga yang menghubungkan dengan melihat ciri atau gaya berkuda orang Minahasa mirip dengan gaya berkuda bangsa Jepang, atau bangsa Mongol yang terkenal dengan pasukan berkudanya dan pemberani dalam berperang. Mungkin melalui Karema mensosialisasikan bagaimana kehebatan berkuda pasukan Jenghis-Khan yang melegenda itu. Berdasarkan kisah historisnya pernah menaklukkan hampir semua kerajaan di Asia (Cina, India, Persia), dan sebagian Eropa (Rusia, Spanyol, Italia dan Jerman). Kesempatan ini penulis akan mengemukakan asumsi-asumsi migrasi leluhur orang Minahasa, adalah sebagai berikut.
Argumentasi linguistik yang menolak pendapat asal-usul Lumimu’ut tersebut (tidak ada kesamaan bahasa antara orang Minahasa dengan bangsa Cina, Mongol dan Jepang), secara teoritis tidak mendasar karena Lumimu’ut ketika itu masih bayi so pasti tidak dapat mewariskan wacana (lisan maupun tulisan) bahasa/dialek dari negeri asal yang bersangkutan.
Kisah Karema, Lumimuut dan Toar. Dalam konteks historis, berdasarkan wacana tulisan (karya sastra budaya Minahasa) dalam Mewoh, dkk (2000), diceritakan bahwa pada era kejayaan bangsa Mongol (700 AC), Genhis Khan (Tamujin) merupakan sosok jenderal yang paling ditakuti di seluruh kawasan Asia Tengah, bahkan kawasan Persia, Arab, dan sebagian Eropah. Pada suatu ketika, pasukan berkudanya diarahkan menyerang kerajaan Shin atau Tionghwan (Cina). Akan tetapi, karena tembok cina begitu kokoh, menyebabkan pasukannya melakukan tindakan penyusupan ke seberang tembok. Salah satu prajurit Mongol, yang gagah berani, dan memiliki kecerdasan menguasai bahasa Han, berhasil masuk ke istana raja tanpa dicurigai. Tanpa disadarinya, ada seorang perempuan tua yang juga berasal dari Mongol, selalu mengikutinya. Ternyata sang prajurit Mongol itu adalah cucu satu-satunya perempuan tua itu yang berusaha untuk melindunginya demi kelangsunan tururannya. Karena semua anaknya sudah mati di medan perang, salah satiunya adalah ayah dari prajurit Mongol tersebut.
Di dalam istana raja, pemuda Mongol ini bertemu dengan seorang putri bernama Lu Ming yang sedang dirudung susah, karena sang putri akan dijodohkan dengan salah satu putra dari keluarga kerajaan lain. Akhirnya pemuda Mongol ini mampu menghibur sang putri yang bermuara pada percintaan. Sang raja pun murkah mendengar kabar bahwa putrinya telah menjalin cinta dengan pemuda Mongol tersebut, apalagi diketahui sang putri sudah hamil. Sebagai konsekuensinya, sang pemuda dan sang putri diberi hukuman berat oleh sang raja, keduanya dijatuhi hukum mati. Tapi karena istri raja/ratu keberatan atas vonis mati sang putri, diganti dengan hukuman sang putri di buang ke luar istana melalui lautan, sedangkan sang pemuda tetap menemui ajalnya di tiang gantungan.
Dengan menggunakan perahu rakit, dibuanglah sang putri ke tengah laut. Perempuan tua yang menyadari bahwa bayi yang dikandung sang putri adalah keturunan satu-satunya, berusaha melindungi sang putri di lautan dengan menggunakan perahu rakit. Perempuan tua itu mengikuti perahu rakit yang membawa sang putri dari belakang. Tiba-tiba di tengah lautan, perahu rakit mereka saling bertabrakan karena dihantam gelombang badai. Keduanya pingsan. Perahu rakit mereka dibawa arus dan terdampar di suatu daratan. Setelah siuman, betapa gembiranya perempuan tua itu, melihat sang putri yang sedang pingsan masih bernafas. Tanpa membuang waktu, diangkatlah sang putri dibawa ke tengah hutan. Setelah sadar, sang putri terkejut melihat perempuan tua di depannya. Akhirnya, setelah perempuan itu menceritakan kejadian di tengah laut sampai terdampar di daratan, sang putri pun sadar bahwa perempuan itu yang menolongnya.
Selama di hutan, perempuan tua itu merawat sang putri begitu penuh dengan kasih sayang. Selain merawat sang putri yang sedang hamil, mencari makanan, membuat pakaian dari kulit kayu, tetapi juga melindunginya dari ancaman hewan liar yang ada di hutan. Bagi sang putri perempuan tua itu sudah dianggap sebagai orang tuanya. Apalagi keberadaan perempuan tua ini dilihat oleh sang putri memiliki kesaktian, arif dan baik hati. Meskipun demikian, perempuan tua itu sama sekali tidak menceritakan hubungannya dengan pemuda Mongol yang tak lain adalah cucunya.
Oleh karena hubungan antara perempuan itu dengan sang putri sudah seperti anak dan ibu, dibuatlah perjanjian atau sumpah dalam suatu upacara yang diatur oleh perempuan itu, sehubungan dengan bayi yang akan dilahirkan sang putri. Sumpahnya adalah, apabila yang lahir bayi perempuan, maka sang putri akan mengabdikan sepanjang hidupnya kepada perempuan tua itu; tetaoi, apabila yang lahir bayi laki-laki, maka sang putri senantiasa harus taat atas segala perintah dari perempuan itu. Upacara sumpah ini ditandai dengan batang pohon tawa’ang yang ditanncapkan ke tanah.
Sang putri yang dahulu bernama Lu Ming diganti oleh perempuan tua itu menjadi Lumimuut, dianalogikan seperti peluh yang berasal dari batu karang. Secara simbolik, peluh menunjukkan sifat pekerja keras, sedang batu karang menunjukkan kekuatan, ketegaran yang mudah goyah oleh kemelut apa pun.
Perempuan tua itu sendiri, namanya disebut Karema, dianalogikan sebagi orang yang mendahului, atau lebih awal dari ayah yang mula-mula. Artinya, bayi yang akan dilahirkan sang putri adalah anak dari cucunya perempuan tua itu. Setelah Lumimu’ut melahirkan, lahir bayi laki-laki dinamakan Toar yang dianalogikan seperti tu’ur atau inti dari pohon.
Arti lain dari Toar adalah pusat angin (Tuar), dianalogikan angin mempunyai sifat abadi tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, yang senantuasa bertumbuh dan meyebar. Lahirnya Toar sebagai bayi laki-laki, konsekuensinya Lumimuut harus mentaati sumpahnya, yakni harus mentaati apa yang dimaui Karema. Setelah sembilan bulan purnama, sang bayi lepas menyusui, diajaklah Luminuut ke tempat di mana pohon tawa’ang itu ditancapkan. Kemudian, Lumimuut diperintahkan untuk meninggalkan sang bayi, mencabut pohon tawa’ang dan membawanya ke mana saja yang dia tuju. Karena dengan membawa pohon tawa’ang Lumimuut akan bertemu dengan seorang laki-laki yang akan menjadi suaminya.
Demikian juga dengan Toar, seiring dengan waktu selama hidupnya dirawat, dididik, dan dibesarkan oleh Karema. Setelah menjadi sosok pemuda tampan, Karema menginginkan supaya mencari pasangan hidup. Sebagaimana yang dialami Lumimuut harus mengembara mencari pasangan hidup di mana saja, demikian juga Toar harus membawa batang pohon tawa’ang sebagai tanda sumpah. Apabila bertemu dengan perempuan yang membawa pohon tawa’ang yang berbeda ukuran panjangnya, perempuan itulah jodohnya.
Dalam pengembaraan melintasi sungai dan hutan, akhirnya Lumimuut dan Toar bertemu di pegunungan yang bernama Wulur Mahatus. Berdasarkan sumpah yang ditetapkan oleh Karema, berjodohlah Toar dan Lumimuut sebagai pasangan suami istri, dikarenakan pohon tawa’ang yang dibawanya berbeda.
Refleksi: Tinjauan Kritis
Berkenaan dengan kisah migrasi/perjalanan Lumimu’ut sampai ke tempat tujuan tanah Minahasa, penting untuk diwacanai melalui suatu tinjauan kritis (critical review) atas cerita yang pernah diungkapkan oleh penulis-penulis asing maupun penulis lokal lainnya (lihat Sinolungan 1992). Dapat ditegaskan bahwa terdapat kelemahan mendasar berkenaan dengan isu historic-linguistic-nya, khususnya kasus Lumimu’ut datang bermigrasi ke Minahasa berwujud sebagai seorang putri raja/gadis cantik (dewasa) bersama rombomgan yang melarikan dari tempat asalnya; versi cerita lain, Lumimu’ut dibuang oleh ayahnya/raja, karena ketahuan bercinta dengan lelaki yang bukan pilihan sang ayah/raja. Tentunya sebagai seorang gadis (diperkirakan berusia 17-20 tahun) secara linguistik sudah dapat berbahasa lisan maupun tulisan.
Yang menjadi permasalahan adalah, bahasa apa yang digunakan oleh Lumimu’ut dan rombongannya itu?
Kalau dikatakan mereka berasal dari wilayah Cina Selatan Yunan, Jepang atau Mongol, maka logikanya bahasa (lisan-tulisan) yang digunakan oleh Lumimu’ut adalah kedua bahasa tersebut? Jika demikian, maka bahasa yang dimaksudkan ini diwariskan ke anak, cucu, dan turunan-turunan Toar-Lumimu’ut? Pertanyaannya, adakah situs tulisan atau huruf Cina atau Jepang tertera di batu yang ada di Watu Pinawetengan? Atau setidaknya terdapat kosa kata Cina atau Mongol dalam teks-teks lisan maupun tulisan dalam bahasa/dialek pada ke empat sub-etnik orang Minahasa (Tombulu, Tonsea, Toulour, dan Tountemboan)?
Akan tetapi, bagi orang Minahasa, menyangkut identitas asal-usulnya sejauh ini tidak mempersoalkan latar belakang asal-usulnya, apakah historis atau mitologis. Yang penting, sebagaimana adat Minahasa tempo doeloe, siapa pun manusia yang bermukim di tanah malesung, harus menyatakan secara terbuka bahwa yang bersakutan adalah turunan Toar-Lumimu’ut. Diinformasikan oleh Swarzh (1890) barangsiapa mengingkari asal-usul turunannya bukan dari Toar-Lumimu’ut, sangsi hukumnya adalah ‘potong kepala’ di bati pinabetengan.

Tetapi menurut beberapa sumber terpercaya juga bahwa sejak menghilangnya karema sewaktu pengembaraan Toar untuk mencari pasangan hidup ada dugaan bahwa karema sempat mengembara juga dan menetap beberapa tahun di sebelah selatan yang sekarang di sebut minahasa selatan tepatnya diantara gunung LOLOMBULAN Dan SINONSAYANG dikarenakan karema sudah menduga bahwa Lumimuut dan Toar akan bertemu sehingga dia hendak mempersiapkan acara peringatan pertemuan antara Toar dan Lumimuut sebagai tanda sudah menjadi sepasang kekasih atau suami istri di buktikan dengan Pembuatan WATU LUTAU yang pada waktu tertentu mengeluarkan suara tembakan sepereti Meriam/ Petir/ Guntur memberikan isyarat kepada Toar dan Lumimuut untuk segera menuju kesana untuk mempersatukan dan menccocokan Tawa'ang yang dibawah masing-masing sebagai tanda berjodoh seperti yang di katakan Karema sebelumnya dan hanya karema yang dapat membuktiakan karena dia yang mengenalih Tawa'ang tersebut dan mempersatukan mereka berdua dan dibuatlah suatu acara pengikat dan di gambarkan atau di lukiskan oleh karema di WATU LUTAU tersebut, sehingga batu tersebut memilikih ukiran/gambar sepasang kekasih. bergandengan tangan yang melambangkan mereka sudah bersatunya dan siap melanjutkan keturunan.
Sehingga daerah itu pada awalnya dinamakan Desa LUTAU dan selanjutnya berubah nama menjadi TINONDEYAN dan sekarang menjadi desa TONDEI yang berarti Tempat yang dicari kembali karena sempat ditinggalkan. tanpa di sadari bahwa daerah tersebut sudah di lupakan yang sebenarnya menyimpan rahasia dibalik semua cerita tentang TOAR DAN LUMIMUUT.

Mengembalikan Data Yang Terhapus,Terserang Virus Atau Bahkan TerFormat

Aku orangnya senang sekali otak-atik komputer, tanganku gatal kalau tidak mengotak-atik bahkan paling doyan ambil aplikasi sana dan sini, maupun Film-film, GAmbar-gambar yang pokok sesuatu yang menyenangkan bahkan sering juga Film yang ndak Beres "Film Olaraga" kata sebagian orang sebagai kata sandi untuk merahasiakan supaya bisa di bicarakan di tempat Umum.

sehingga suatu saat,aku inin mengambil beberapa Film Horor indonesia di komputernya teman yang kelihatannya dalam keadaan yang baik-baik saja tapi tidak di sangkah waktu saya mengcopy ke Leptop saya sebelumnya saya melakukan scaning dan Akhirnya data virusnya tidak terhingga, sehingga mengakibatkan Laptop saya langsung tidak bisa di oprasikan lagi dan ketika saya restart sudak tidak bisa di hidupkan, saya sedikit kecewa namun langsung terpikir untuk di instal.

Pada saat saya Hendak melakukan Instalisasi untuk memilih partisi C yang akan di instal saya merasa kaget dan heran ternyata laptop saya tinggal 1 (satu) Partisi yang bagian D dan E sudah terserang VIrus yang sangat berbahaya sehingga Menjadi 1 Partisi C yang mau tidak mau harus di instal baru dengan konsekuensi semua data akan Hilang.

Saya Sters Berat karena semua data penting saya ada di partisi D dan E , Termasuk Tugas Akhir yang direncanakan akan di ujiankan seminggu LAgi karena suda di sepakati oleh dosen pembimbing tapi semua data sudah MUsnah.

saya mencari aplikasi sana dan sini walupun harus mengeluarkan uang ratusan ribu saya tidak perduli asalkan data-data ku dapat di kembalikan,sehingga ada beberapa aplikasi yang saya beli untuk mengembalikan data yang hilang terformat namun tidak berhasil karena aplikasi itu hanya dapat mengembalikan data yang terhapus bukan tyerforma,saya makin stressssssss dan pada akhirnya saya Menemukan Alikasi YAng LUar Biasa YAng dapat mengembalikan data-data yang hilang baik terhapus,terkenak Virus maupun Terformat sekalipun dapat di kembalikan.

Oleh karena itu saya ingin membantu teman-teman yang mengalami hal yang sama dengan saya atau hampir sama untuk dapat mengembalikan data-data tersebut...................... karena saya suda merasakan bagaimana rasanya kehilangan data yang sangat penting.

Semoga Dapat Membantu Teman..........!!!!

Cara Paling Gampang Merubah Tampilan Windows XP Menjadi Windows 7

Sejak kemarin malam saya banyak menghabiskan waktu saya dengan mengutak-atik tampilan desktop laptop saya yang bersistem operasi Windows XP Home Edition (OEM) agar terlihat menjadi seperti tampilan sistem operasi terbaru dari Microsoft yaitu Windows 7.

Saya telah mencoba beberapa themes gratisan, mendownload beberapa icon pack, wallpaper, dan lain sebagainya untuk diaplikasikan di sistem operasi Windows XP Home Edition (OEM) laptop saya tersebut agar tampilannya mendekati tampilan Windows 7. Namun akhirnya pilihan saya jatuh kepada sebuah aplikasi buatanNiwradSoft bernama Seven Remix XP dimana kebetulan versi aplikasi yang saya download adalah Seven Remix XP 2.0 yang memiliki ukuran file sebesar 18.36 MB dan bisa kalian download secara gratis disini.

Cara menginstall aplikasi Seven Remix XP ini sangat gampang, ya.. karena ekstension filenya adalah EXE jadi kita tinggal double-click saja file yang telah kita download tadi dan tunggu hingga proses instalasinya selesai lalu kemudian kita reboot komputer kita. Aplikasi ini selain merubah tampilan desktop seperti wallpaper, icon, dan taskbar, juga merubah tampilan screen pada saat booting, logon, file suara, dan lain sebagainya.

Mengoptimalkan Kinerja Komputer

Tweaking Windows Untuk Mempercepat Computer

Pada kali ini ESC-creation akan membahas bagaimana mempercepat kinerja komputer yang kita miliki sehingga performance lebih baik dengan sedikitTweaking dan Modifikasi pada setting Windows computer kita. Hal ini sangat membantu untuk mempercepat Kinerja computer kita yang mungkin anda rasa masih lamban seperti bila kita masih menggunakan PC setara pentium III atau Pentium 4.

Dengan menerapkan Modifikasi, optimiser, Tweaking seeting Registry pada Windows maka hal ini akan mengoptimalkan kerja dari Computer agar bekerja lebih cepat dari sebelumnya.

Berikut langkah Optimalisasi Windows untuk mempercepat kinerja Komputer :

A. Matikan beberapa fitur Start Up.

Hal ini akan mempercepat loading Windows pada waktu Booting atau pertama kali kita menghidupkan Komputer.

  • Masuk menu RUN >>> Ketikan MSCONFIG >> OK >> Pilih menu Start Up >> Hilangkan semua cawang pada Start up kecuali Program Anti virus
  • Klik Menu service >> Hilangkan cawang pada Automatic Updates
  • Setelah itu >>> Aplly >>> Ok

Hal ini memerlukan Restart Windows, Setelah itu ada Message Windows dan pilih dont show this message again. Kemudian lanjutkan ke Optimasi pada Registry Windows di bawah ini.

B. Optimasi Pada Registry

Rubah Registry Windows pada bagian berikut ini.

  • MASUK RUN >> Ketik REGEDIT >> >> OK
  • MY COMPUTER >>> HKEY_CURRENT_USER >> CONTROL PANEL >> DESKTOP >>
  • Cari MENU SHOW DELAY >> Doble Klik dan rubah value data menjadi 10
  • Cari HUNG-UP TIME OUT >> Doble Klik rubah value dataya menjadi 5
  • MY COMPUTER >> HKEY_LOCAL_MACHINE >> SYSTEM >> CONTROLSET001 >> CONTROL >> WAIT TO KILL SERVICE >> Rubah Valuenya menjadi 500
  • MY COMPUTER >> HKEY_LOCAL_MACHINE >> SYSTEM >> CONTROL SET002 >> CONTROL >> WAIT TO KILL SERVICE >> Rubah Valuenya menjadi 500
  • MY COMPUTER >> HKEY_LOCAL_MACHINE >> SYSTEM >> CURRENT CONTROL Set> COntrol >> SESION MANAGER >> MEMORY MANAGEMENT >> DISABLE PAGING EXCecutive >> Rubah Value data menjadi 1

C. Optimalkan Virtual Memory

  • Masuk Control Panel >> System >> Advanced >> Performance Setting >>> Pilih Custom >> Cawang pada : “Use Drop Shadow For Icon labels on the dekstop” dan “Use Visual styles on windows and buttons” dan kemudian aplly.
  • Pada menu advanced >>> Virtual memory >> Change >> Klik pada drive c:Windows >> Pilih Custom Size >> Rubah Value pada initial size dan maximum Size 2 kali lipat dari value sebelumnya misal 256 rubah ke 512 , 512 rubah 1000) atau anda bisa merubah sesuai keinginan anda asal lebih besar dari value sebelumnya, Kemudian klik Ok.

Tweaking dan Modifikasi diatas bertujuan untuk mengoptimalkan dan mempercepat proses kerja suatu program atau software. Dan untuk mencegah peringatan / warning Virtual memory too low pada saat menjalankan program yag berat seperti Adobe Photoshob, Corel Draw, Adobe Premiere, Pinacle dan program berat lain yang memerlukan Virtual memory yang besar. Dan juga hal ini untuk mendukung Memory Ram yang kecil sehingga masih bisa digunakan untuk menjalankan progam berat tersebut.

Setelah selesai Restart komputer anda maka Kinerja dan PerformanceComputer anda akan lebih cepat dari sebelumnya. Selamat Mencoba.

Rabu, 02 Februari 2011

Sambutan Ketua Umum IMAMINSEL (Hesky R.D. Kumajas)

SAMBUTAN

KETUA UMUM

IKATAN MAHASISWA UNIMA MINAHASA SELATAN

( I M A M I N S E L )

2009-2010

Salam sejahtera…….

Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai kepala Ikatan Organisasi ini yang tetap menjaga, memelihara, dan memberkati dalam tugas, pekerjaan dan tanggung jawab yang dipercayakan-Nya dan teman-teman kepada saya,sebagai ketua Umum Ikatan Mahasiswa Unima Minahasa Selatan.

Ikatam Mahasiswa Unima Minahasa Selatan (IMAMINSEL) dibentuk sebagai wadah generasi Muda yang dalam hal ini di pandang sebagai kaum intelektual, tulang punggung/tongkat estafet bangsa dan Negara terlebih masyarakat Minahasa Selatan sendiri untuk menyampaikan aspirasi tentang hak-hak yang bisa di dapat oleh Mahasiswa Minahasa Selatan Di UNIMA maupun Di Kabupaten Minahasa selatan terlebih di Sulawesi Utara dan membuat kajian tentang kejadian, fenomena yang terjadi serta Menilai kinerja Pemerintah maupun Rektorat Universitas Negeri Manado (UNIMA), Untuk Mempersatukan seluruh mahasiswa yang berasal dan keturunan dari Minahasa selatan agar memiliki kesadaran bahwa kita semua berasal dari atau kabupaten yang sudah sepatut dan sepantasnya untuk saling membantu satu sama lain dalam segala hal sehingga tercermin ungkapan Cita Waya Esa benar-benar kita maknai, Bukan Cita Waya Esa Onak.

Kehadiran IMAMINSEL merupakan kumpulan mahasiswa UNIMA dari 156 desa/kelurahan di minahasa selatan dan organisasi-organisasi pelayanan,kader maupun organisasi sosial budaya yang memilikih tujuan yang sama yaitu memajukan kabupaten minahasa selatan mewujutkan kesejakteraan masyarakat yang adil dan makmur dan menjadikan mahasiswa, masyarakat yang memiliki daya saing, mandiri dan kereatif, berkualitas dan dapat menjadi patutan untuk mahasiswa, masyarakat maupun kabupaten yang lain.

Namun Tak terasa sudah setahun bahkan lebih sedikit kami dipercayakan untuk melanjutkan kepengurusan Ikatan Mahasiswa Unima Minahasa Selatan (IMAMINSEL)

Kepengurusan kami terpilih pada 21 November 2009 di desa wanga kecamatan motoling timur,kabupaten Minahasa selatan. Di kepengurusan kami disadari bahwa tidak berjalan maksimal karena ada beberapa program kerja yang tidak/belum terlaksana yang disebapkan oleh beberapa factor. Namun kami tetap bersyukur karena di balik kekurangan dan keterbatasan,beberapa program kerja tetap berjalan dan ada beberapa kegitan yang terlaksana di luar program kerja pengurus, walaupun memang harus diperhadapkan pada banyaknya tantangan, pergumulan dan perjuangan dalam menjalankan kepengurusan dan program kerja ini, baik itu masalah kebersamaan, komitmen dan rasa tanggungjawab untuk memajukan dan mengembangkan organisasi yang kita banggakan dan cintai besama ini.

Banyak pihak yang membantu kepengurusan saya diantaranya: pelindung, penasehat, pengarah, bahkan seluruh anggota Ikatan mahasiswa unima minahasa selatan serta para donatur dalam rangka menyukseskan program kerja pengurus lewat kegiatan-kegitan yang dilaksanakan. bantuannya berupa dukungan doa, waktu, tenaga maupun Materi.

Merupakan suatu pencapaian yang mungkin banyak kekurangan disana-sini tetapi sudah merupakan usaha terbaik yang kami pengurus persembakan/Lakukan untuk teman-teman yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Unima MInahasa Selatan (IMAMINSEL) ini.

Tentunya besar harapan saya sebagai ketua Umum Ikatan Mahasiswa Unima Minahasa Selatan (IMAMINSEL) yang akan segera di demisioner kepada pengurus selanjutnya yang akan terpilih lewat kegitan Musyawarah Besar ke-IV ini untuk dapat mempertahankan prestasi yang telah didapat di pemerintah maupun di Universitas Negeri Manado (UNIMA) dan memperkaya pengalaman lewat hal-hal yang dihadapi di kepengurusan kami sebagai bahan pertimbangan dalam menjalankan kepengurusan pengurus selanjutnya untuk menjadikan IMAMINSEL yang lebih baik lagi.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa akan senantiasa menolong dan menjaga kita dalam tugas dan tanggung jawab sebagai pengurus untuk menjalankan program kerja dan kegitan-kegitan yang akan di laksanakan oleh pengurus selanjutnya.

Cita Waya Esa,,,…..

Hidup Mahasiswa,,,,,….

PASTI BISA………………………!!!

PENGURUS IMAMINSEL

PERIODE 2009-2010

KETUA UMUM

HESKY R.D KUMAJAS